Aku ibunya!

Standard

Rasanya ingin teriak! Memberitahu mereka bahwa akulah yang memiliki hak sepenuhnya untuk menentukkan bagaimana memperlakukan anakku. Memberitahu mereka bahwa aku adalah ibunya. Bukan mereka yang disebut kakek, nenek, ataupun tante dan om. Bukan mereka. Hanya aku, ibunya dan suamiku, ayahnyalah yang berhak memutuskan bagaimana akan memberikan pengasuhan untuk anaku, anak kami!

Toh kenyataannya, meskipun mereka pernah juga mengalami masa sepertiku, mereka tidak mau tahu. Tetap saja mereka yang sok tahu harus begini, harus begitu dalam memperlakukan anakku. Ini anakku, lho.. anak yang susah payah kukandung dan kulahirkan. Anak yang selama kurang lebih 9 bulan dalam perutku, yang selalu bersamaku, dan kubawa kemanapun ku pergi. Bukan anak mereka! Memang akhirnya mereka mengerti yang kurasakan? Bahkan ketika anakku menangis, bukan selalu berarti bahwa ia lapar. Bahwa ketika anakku ingin kuberikan imunisasi di dokter, bukan di bidang, bukan berarti aku menyombong. Dan terlebih bagaimana aku berusaha menjaga kemurnian dan kebersihan paru-paru anakku dari asap rokok yang terkadang memenuhi ruangan kamar mereka!

Memangnya mereka harus selalu benar? Hanya karena mereka adalah orang tuaku yang terlebih dahulu memiliki pengalaman merawatku dan adik-adikku, juga karena mereka adalah orang tua suamiku yang juga lebih dulu berpengalaman dalam menumbuhkembangkan suamiku dan adiknya. Haruskah kembali kuingatkan, bahwa ia anakku, dan aku serta suamikulah yang berhak menentukkan akan kami apakan ia di tangan kami, dengan pengalaman kami sendiri. Dengan cara kami sendiri. Bukan cara mereka!

Sungguh aku ingin meneriakkan ini di telinga mereka, agar mereka mengerti bahwa ini sudah bukan masa mereka lagi bernostalgia dengan jaman mereka dulu dengan anak pertama mereka. Ini adalah masaku, jamanku dengan anak pertamaku. Ini adalah pembelajaranku, ini duniaku, dan ini seharusnya menjadi surgaku.

Bukankah mereka juga seharusnya menyadari bahwa akupun harus belajar dalam merawat anakku, bukan berarti harus di dikte dan dipaksa untuk mengikuti langkah mereka dalam mendidik anak-anak mereka dulu. Karena ia bukan anak mereka, ia hanya cucu, ia adalah anakku. Dan aku ibunya! Bagaimana aku bisa membersarkan anakku bila selalu ada campur tangan sok tahu mereka?

Ya alloh.. jagalah anak hamba selalu dalam lindunganMu, dalam keselamatanMu..

Advertisements

Bantuan datang!

Standard

Nak, bunda dapat donor asi nak! Alhamdulillah yah sesuatu nak! Ini nyata lho nak, bukan fatamorgana ataupun rekayasa. *maap ikut sedikit kata-kata syahrini*

Akhirnya setelah sekian bulan, hampir 2 bulan tepatnya, mencari informasi sana sini mengenai ibu-ibu menyusui yang kelebihan stock asi dan berbaik hati mau mendonorkan, bunda ketemu beberapa orang yang menawarkan diri memberikan asinya untuk membantu bunda dan memberikan kebutuhan yang maksimal buatmu nak. Bunda lupa nak kalau ada internet dan beberapa forum yang bisa bunda pakai untuk menyebarkan permintaan tolong untuk mencari donor asi untukmu. Cepat lho nak respond nya, baru beberapa menit posting, ehhh sudah ada beberapa yang menawarkan diri. Ya Alloh memang Maha Baik ya buat kita. Setidaknya walau asi bunda masih belum bisa maksimal buatmu, kamu masih bisa mimik asi nak! Jadi kamu harus sehat ya nak, flu sama batuknya hilang dulu. Biar tumbuh kembang kamu optimal. Ganteng bunda dan uti harus sehat ya nak!

Nanti kalo udah bisa ngomong, ucap makasih ya sama tante mutia dan tante fenti (calon donor asi keduamu) yang sudah berbaik hati mau memberikan asinya untukmu. Cerita soal ini kalo bunda lupa tulis disini, kamu tanya langsung ya nanti sama bunda 😉

Doain bunda ya nak bisa kasih asi terus buatmu, terutama dari bunda sendiri produksinya.. Aaamiiiinnnn

About you to me, and (maybe) vice versa

Standard

Sudah lama baca display picture salah satu teman di telepon seluler dan sangat suka isinya. Sederhana, tapi bermakna sekali. Bukan apa-apa, tapi menunjukkan bahwa cinta bukan hanya sekadar kata. Bahwa sayang bukan hanya sekadar rasa.

Saya memang masih belajar, mencintai dengan kasih sayang, dan menyayangi dengan cinta. Dan kami akan terus mengenal lebih dalam tentang cerita dibalik kisah yang akan kami rajut bersama.

Jadi ini seperti ungkapan isi hati saya untuknya, yang saya harap ia juga memiliki ungkapan isi hati yang sama untuk saya. Ciehhh.. Ngarep! Hahaha..

Bagus ya.. :)

Bagus ya.. 🙂

ngASI dengan relaktASI

Standard
prince's smile

prince’s smile

Lucu ya..

Senyummu nak.. Kalau kamu lagi anteng, bunda tidak tahan untuk tidak ikut tersenyum. Tapiiii.. Begitu tiba saatmu merengek dan menangis tidak sabar karena lapar atau haus, bunda rasanya bisa mati saat itu juga.

Kenapa sih nak kamu begitu susah kasih bunda kesempatan untuk belajar memberimu asi? Apa sudah begitu terlambatnya usaha bunda? Tolonglah nak, sabar sejenak melakukan perlekatan dengan benar. Dengan perlekatan yang benar, maka asi bunda akan semakin banyak untuk memenuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak sabar, bunda juga jadi ikut sedih, akhirnya mempengaruhi produksi asi bunda.

Ini sudah hampir seminggu bunda usaha mulai memberikan asi langsung dari payudara bunda. Relaktasi mereka menyebutnya nak. Tapi juga harus ada kerjasama darimu juga nak, biar usaha bunda bukan hanya dari satu sisi saja. Tolong ya nak, bunda mohon.. Bantu bunda melancarkan usaha bunda memberikan asi untukmu. Ya sayang, ya..

Kecup hangat dan peluk sayang untukmu nak, dari bunda..

Gumoh

Standard

Nuaz sayang..

Kamu tahu apa yang paling membuat khawatir bunda nak? Saat malam tiba, ketika tidurmu gelisah, dan ketika kamu menangis. Bunda bukan ibu yang sempurna yang mampu melahirkanmu dengan proses persalinan normal dimana kamu akan mampu menelan cairan untuk memperkuat daya tahan tubuhmu. Bunda juga tidak mampu memberikan asi melimpah untuk membantumu tumbuh kembang dengan baik. Setidaknya sampai saat ini bunda masih berharap bahwa susu formula yang bunda berikan mampu menjadi pengganti asi yang belum bisa bunda penuhi untukmu.

Hari ini kamu gumoh sampai keluar dari hidung. Bunda panik nak. Bunda tahu gumoh adalah hal biasa yang menimpa bayi. Tapi itu untuk bayi yang mendapatkan asi eksklusif dari ibunya. Kamu.. Belum seberuntung bayi-bayi asi eksklusif itu. Maka bunda panik. Bunda sedih. Karena bunda tahu bagaimana sulitnya susu formula dicerna oleh lambungmu yang mungil. Maka itu mungkin setiap kamu tidur kamu selalu gelisah, dan bunda tidak pernah bisa nyenyak tidur jika tidak mengawasimu yang tengah sibuk ‘ngulet’ sambil berharap kamu tidak gumoh.

Bunda sedih nak.. Setiap melihatmu menangis menunggu susu yang tengah diseduh agar suhunya dapat kamu terima dalam hisapan mulutmu. Sedangkan jika asi bunda cukup untukmu, kamu pasti tidak akan menangis sampai begitu keras dan putus asanya hanya untuk menunggu susu untuk menghilangkan dahaga dan laparmu.

Bahkan bunda sudah tidak tahu harus berdoa apa lagi agar asi bunda cukup untukmu nak. Sampai suatu hari bunda seperti hendak menyerah.. Asal kamu tumbuh sehat layaknya bayi asi eksklusif lainnya.. Bunda ikhlas jadi ibu yang tidak sempurna untukmu nak.. Asal anak bunda tumbuh sehat.. Bunda ikhlas..

Just not enough

Standard

Aku bahagia memiliki Nuaz. Aku bahagia dengan kehidupanku bersama suami yang mencintaiku apa adanya. Tapi apa itu cukup? Melahirkan Nuaz dengan proses operasi, mengalami sakit yang berkepanjangan, dan bahkan kini aku tidak bisa memberikan nutrisi yang terbaik untuk anakku.. Asi.

Aku tidak akan sepanik ini jika asiku mengalir deras dan membuat anakku merasa kenyang dengan asupan hanya dariku. Aku tidak akan gelisah sepanjang malam melihat anakku gelisah karena bendungan susu formula yang terlalu sulit dicerna lambungnya yang masih begitu bersih. Aku tidak akan begitu khawatir mengenai penyakitnya dimasa yang akan datang karena asiku akan melindunginya. Tapi asiku hanya setetes.. Bahkan tidak akan pernah cukup untuk mencukupi dahaga anakku. Asiku hanya sececer.. Tidak akan cukup untuk memberikannya imunitas yang dibutuhkan untuk menghadapi beragam penyakit dan virus yang mengelilingi. Asiku.. Memusnahkan harapanku untuk menjadi ibu yang terbaik untuk anakku.

Bahkan mengikhlaskan persalinan normal dengan menjalani proses menyakitkan bersalin dengan cara sectio pun tidak mampu membuat asiku melimpah untuk anakku. It’s just not enough, and I’m sorry my son for not being a good mother for you. Maaf juga untuk suamiku yang mungkin kecewa karena aku tidak bisa memberikan gizi terbaik untuk Nuaz..

Sungguh ini bukan inginku.. And it’s just not enough even just for a nightmare.

Rembes

Standard

Ini kesekian kalinya jahitan rembes. Kali ini darah yang hampir memenuhi setengah dari perban yang terpasang menutupi jahitan bekas operasi ulang. Selasa lalu seharusnya aku sudah bisa sedikit merasa lega dan mobilisasi dengan sedikit leluasa karena mengira bengkak yang terjadi di sekitar jahitan sectio jumat sebelumnya sudah mulai membaik. Tapi yang ada malah menimbulkan infeksi yang membuat jahitan sectio menjadi bernanah dan meninggalkan luka jahitan yang kembali menganga. Dalam. Perih.

Dokter memutuskan untuk menjahit ulang jahitan sectio karena lukanya yang dalam dan tidak bisa ditangani hanya dengan salep biasa. Luka jahitan itupun di jahit ulang. Aku harus menahan lagi sakit yang kurang lebih sama dengan sebelum sectio. Kau harus menahan lagi ketakutan yang sama. Ruang operasi.

Dan aku harus meninggalkan Nuaz, anakku untuk sementara aku dirawat di Rumah Sakit yang sama. Biaya membengkak, tentu saja. Tidak ada kejelasan mengapa jahitan itu bisa infeksi dari dalam. Protein dalam tubuhku yang jadi kambing hitamnya, serta Hemoglobinku yang membuatnya memperparah keadaanku. Rasanya seperti sudah selesai perjalananku. Tapi aku harus berjuang demi anakku yang tengah dirawat ibu dan adikku. Maka aku harus kuat.

Bahkan saat ini, ketika kemudian aku merasakan sakit disekitar jahitanku.. Aku harus kuat. Demi Nuaz, demi suamiku, demi ibuku.. Demi asi untuk anakku!

Aku harus kuat! Dan sembuh!